Literasi Baru Jadi Solusi Kerusakan Bangsa


Foto: Dokumentasi STAINU Temanggung

STAINU TEMANGGUNG – Kerusakan bangsa di berbagai hal menjadi keprihatinan akademisi. Salah satu kerusakan itu adalah kerusakan bahasa dan minimnya orang berbahasa halus serte melek sastra. Untuk itu, selain menguasai literasi lama, pelajar dan mahasiswa, juga guru dan dosen didorong menguasai literasi baru sebagai solusi untuk menghadapai bahkan menundukkan era Revolusi Industri 4.0 ini.

Hal itu diungkapkan Ketua Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung Hamidulloh Ibda saat menjadi pemateri tunggal dalam Seminar Literasi, Pengumuman Pemenang Lomba Cipta Puisi dan Peluncuran Antologi Puisi "Patriot Is Me" pada Sabtu (10/11/2018) di aula lantai 3 STAINU Temanggung.

Dalam kesempatan itu, Hamidulloh Ibda mengatakan literasi era Revolusi Industri 4.0 tidak cukup literasi lama, namun harus diperkuat dengan literasi baru. "Pemerintah telah merumuskan tiga solusi kemajuan bangsa. Mulai dari kompetensi, karakter dan literasi," beber dia dalam seminar tersebut.

Untuk literasi lama, kata dia, hanya pada literasi membaca, menulis dan berhitung. "Tapi literasi baru menuntut kita untuk menguasai literasi data, teknologi dan literasi manusia," papar penulis buku Media Literasi Sekolah tersebut.

Ibda menegaskan, riset Thomas Lickona tahun 1990-an masih relevan bahwa kerusakan bahasa menjadi indikator kerusakan bangsa. “Sebab, dari bahasa kasar melahirkan tindakan dan budaya kasar pula. Jika dibiarkan, maka bangsa kita ini peradabannya kasar. Maka sastra dalam hal ini urgen untuk dihidupkan kembali,” beber dia.

Ia juga menjelaskan posisi pelajar, mahasiswa, guru dan dosen dalam menjalankan Bahasa Indonesia. Selain di dunia jurnalistik, karya tulis ilmiah, bahasa harus dikuatkan melalui karya sastra. "Jika dulu sastrawan itu harus menulis dan dimuat dikirim ke media massa, penerbit, maka sekarang banyak potensi untuk menjadi sastrawan," beber dia.

Pertama adalah cybersastra. "Ini adalah komunitas yang menggerakkan sastra di dunia siber. Anda bisa menirunya sesuai karya sastra yang dipilih. Mau puisi, cerpen, gurindam, fabel, seloka, hikayat, dongeng dan lainnya," papar penulis buku Senandung Keluarga Sastra tersebut.

Kedua adalah sastrawan virtual. "Jadi ini model sastrawan instan. Nulis puisi sebanyaknya, terus diupload di media sosial, terus ngaku sastrawan. Ini yang banyak dipilih anak-anak muda era 21 ini. Tapi saya tidak menyarankan untuk seperti ini," papar penulis buku Stop Pacaran Ayo Nikah tersebut.

Ketiga, sastrawan momentum. "Ini model sastrawan dadakan. Misal presiden, gubernur, bupati yang membaca puisi di momen tertentu. Tapi ya ini bukan jenis sastrawan beneran," ujar dia.

Keempat adalah sastrawan lomba. "Nah ia menjadi sastrawan ketika ada lomba. Baik itu jenis karya sastra lisan atau tulisan," beber peraih Juara I Lomba Artikel tingkat Nasional Kemdikbud tahun 2018 tersebut.

Dari keempat itu, kata dia, silakan mau pilih mana. "Tapi saya menganjurkan ya tetap menulis karya sastra lalu dikirim ke media massa atau penerbit. Atau Anda bisa jadi kritikus, apresiator atau peneliti sastra," papar Ibda yang didampingi moderator M Ulfi Fadli tersebut.

Hadir dalam seminar itu Dr. H. Muh Baehaqi, MM Ketua STAINU Temanggung, Effi Wahyuningsih Kepala Lembaga Bahasa STAINU Temanggung, Andrian Gandi Wijanarko Ketua Panitia Lomba Cipta Puisi. Acara ini dihadiri pula ratusan pelajar SMA/SMK/MA dan guru se eks Karesidenan Kedu. Usai seminar, kegiatan dilanjutkan baca puisi, dan pemberian hadiah serta peluncuran antologi puisi. 

Sumber: PTKIS

Penulis : red
Editor   : edt