PGMI STAINU Tawarkan Solusi Kerusakan Bahasa pada Anak


Foto: Dokumentasi STAINU

TEMANGGUNG – Prodi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung menggelar Diskusi Prodi bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) PGMI STAINU Temanggung yang bertempat di Kampoeng Sawah Temanggung, Rabu (26/9/2018).

Rangkaian kegiatan tersebut digelar dalam acara bertajuk Forum Keakraban Mahasiswa dan Diskusi Prodi dengan tema "Bahasa dan Pengembangan Karakter". Dari diskusi ini, menghasilkan sebuah solusi jangka panjang dan jangke pendek pada kerusakan bahasa anak di era milenial ini.

Acara diawali dengan pelantikan pengurus redaksi oleh Kaprodi PGMI STAINU Temanggung sekaligus launching Buletin PGMI (BUMI) oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) STAINU Temanggung.

Dalam pemaparannya, Faizah MPd, dosen PGMI STAINU Temanggung, menegaskan bahwa bahasa ibu atau bahasa pertama sangat urgen dipertahankan di era globalisasi ini. Sebab, menurut lulusan Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga itu, saat ini kerusakan anak tidak hanya pada aspek rusak bahasanya, namun juga karakternya.

“Keluarga sangat menentukan bahasa yang halus dan pemertahanan bahasa ibu. Jika kita orang Jawa, Sunda, maka kita harus melestarikan "bahasa ibu" kita tersebut yaitu bahasa Jawa, Sunda, dan bahasa ibu yang lain,” beber dia dalam diskusi yang dimoderatori Muhammad Fadloli Alhakim tersebut.

Ia juga memberi solusi, pemertahanan bahasa ibu juga ditentukan oleh penggunaan bahasa dalam pergaulan sehari-hari. Sebab, menurut dia, bahasa menjadi penciri karakter seorang, jika bahasanya baik, maka akan mencerminkan karakter baik sang anak, atau sebaliknya.

Sementara itu, Effi Wahyuningsih dosen Bahasa Inggris STAINU Temanggung sebagai penyaji kedua, mengatakan bahasa sangat berpengaruh terhadap perkembangan karakter anak. “Penggunaan bahasa dalam interaksi sehari-hari sangat menentukan karakter anak, kasar atau halusnya bahasa mereka ditentukan oleh penggunaan bahasa dalam interaksi sehari-hari di lingkungan mereka,” beber dia. Bahasa yang mereka peroleh dan pelajari dari keluarga, sekolah, tayangan-tayangan acara di televisi dan internet juga sangat berpengaruh kepada karakter anak.

“Kurikulum di jenjang SD/MI juga menentukan bahasa dan karakter anak. Maka dari itu, Program Penguatan Karakter (PPK) sesuai Perpres 87 tahun 2017 yang digagas oleh Presiden Joko Widodo melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memprioritaskan pendidikan karakter untuk jenjang SD/MI sebesar 70 persen,” tegas Ketua Lembaga Bahasa STAINU Temanggung itu.

Hadir dalam kesempatan itu Hamidulloh Ibda Kaprodi PGMI STAINU Temanggung, Farinka Nurrahmah Azizah Sekprodi PGMI STAINU Temanggung, dan Andrian Gandi Wijanarko dosen PGMI STAINU Temanggung serta puluhan mahasiswa dan juga pengurus HMP PGMI STAINU Temanggung.

Acara berlangsung meriah, karena antara dosen dan mahasiswa beradu argumen mengenai penggunaan bahasa kasar dan penerapannya dalam keluarga serta di sekolah.

Sebagai simpulan dari acara diskusi ilmiah tersebut adalah bahwa pembentukan karakter anak melalui bahasa juga harus dikaitkan erat dengan budaya, karena belajar bahasa juga berarti belajar tentang budaya terkait.  Semakin baik bahasa seorang anak, mereka akan menjadi tunas muda untuk generasi berbudaya yang nasionalis dan religius sesuai cita-cita pendidikan karakter yang digagas pemerintah.

Sumber: PTKIS

Penulis : red
Editor   : edt